ohh ini tohhh yang namanya neuropati
Jangan Abaikan Kram dan Kesemutan
JANGAN anggap enteng kram dan kesemutan. Bisa saja ada gangguan saraf (neuropati) sehingga memunculkan gejala tersebut.
Neuropati mengancam 1 dari 4 orang, atau 26 persen pada usia 40 tahun ke atas. Sedangkan risiko pada penderita diabetes terkena penyakit itu hingga 50 persen.
Gejala-gejala neuropati antara lain nyeri, baal, kesemutan dan kebas, mati rasa, kram dan kaku-kaku, kesemutan, kulit hipersensitif, kulit mengkilap, kelemahan anggota gerak, dan rambut rontok. Pada kondisi yang sudah berat dapat mengakibatkan kelumpuhan.
Manfaluthy Hakim, konsultan neurologis dari RSCM menyatakan, neuropati merupakan istilah untuk kerusakan saraf yang diakibatkan penyakit, trauma pada saraf, atau karena efek samping dari penyakit sistemik, seperti diabetes dan kencing manis. Umumnya gangguan saraf itu sering tidak disadari karena tidak dipandang sebagai penyakit. Hanya sebagai kondisi yang umum terjadi, seperti kesemutan, kram, dan sebagainya. Padahal jika dibiarkan, neuropati bisa mengganggu.
Neuropati sebenarnya merupakan ganguan pada saraf tepi, yang terdiri dari sensorik, motorik, dan otonom. "Saraf tepi ini berasal mulai dari sumsum tulang belakang, yang berbentuk seperti akar saraf, hingga ke ujung bagian tubuh seperti tangan dan kaki," ujar Luthy.
Penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Namun, ada sejumlah kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko terkena gangguan saraf. Misalkan mereka yang berusia lanjut, penyandang diabetes, ada riwayat neuropati di keluarga, hipertensi, merokok, minum alkohol, menderita penyakit pembuluh darah, kanker, terpapar bahan kimia, infeksi penyakit, dan konsumsi obat-obatan.
Sejatinya, gangguan saraf seperti ini dapat dicegah dengan mengonsumsi vitamin B terutama B1, B6 dan B12 secara teratur. "Jangan lupa berolahraga yang melatih otot-otot saraf, misalnyaberenang dan jogging," saran Luthy.
Vitamin neuropati, kata Luthy, bermanfaat untuk menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, yaitu dengan memberikan asupan yang sesuai sehingga sel dapat berkerja dengan lebih baik.
"Setiap detik di tubuh kita terjadi perusakan (katabolisme) dan pembangunan (anabolisme), sehingga dibutuhkan nutrisi setiap hari. Vitamin juga terlibat dalam metabolisme sel, sehingga dapat dipakai untuk mengatasi kelelahan dan membantu masa penyembuhan penyakit," ujar Luthy.
Sistem saraf manusia sangat bergantung pada pasokan vitamin B yang memadai. Data menunjukkan, 45 persen orang tua yang tidak mengkonsumsi vitamin B1, menderita neuropati. Vitamin B6 diperlukan sistem saraf dan imun, serta dibutuhkan sel darah merah sebagai pembentuk hemoglobin. Kekurangan vitamin ini dapat mengakibatkan kelainan saraf seperti depresi, kebingungan, bahkan kejang.
"Vitamin B12 adalah vitamin untuk perumbuhan sel dan reproduksi. Juga penting untuk pembentukan selubung mielin (selubung yang mengelilingi dan melindungi saraf - red) dan neukleoprotein. Mielin penting untuk menyampaikan pesan dari otak ke seluruh tubuh," ujarnya.
Kekurangan B12 menyebabkan rusaknya selubung mielin, dan berpotensi mudah terjadi ganguan pada saraf seperti dipaparkan di atas. Sayangnya, kita semua rentan kekurangan Vitamin B12, karena yang masuk ke dalam tubuh dan diserap hanya kurang dari 2 persen.
"Semakin bertambahnya usia, semakin membutuhkan tambahan Vitamin B12 untuk mencegah neuropati karena penyakit degeneratif," tutup Luthy.
source: http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/05/31/93020/Jangan-Abaikan-Kram-dan-Kesemutan/11
Neuropati mengancam 1 dari 4 orang, atau 26 persen pada usia 40 tahun ke atas. Sedangkan risiko pada penderita diabetes terkena penyakit itu hingga 50 persen.
Gejala-gejala neuropati antara lain nyeri, baal, kesemutan dan kebas, mati rasa, kram dan kaku-kaku, kesemutan, kulit hipersensitif, kulit mengkilap, kelemahan anggota gerak, dan rambut rontok. Pada kondisi yang sudah berat dapat mengakibatkan kelumpuhan.
Manfaluthy Hakim, konsultan neurologis dari RSCM menyatakan, neuropati merupakan istilah untuk kerusakan saraf yang diakibatkan penyakit, trauma pada saraf, atau karena efek samping dari penyakit sistemik, seperti diabetes dan kencing manis. Umumnya gangguan saraf itu sering tidak disadari karena tidak dipandang sebagai penyakit. Hanya sebagai kondisi yang umum terjadi, seperti kesemutan, kram, dan sebagainya. Padahal jika dibiarkan, neuropati bisa mengganggu.
Neuropati sebenarnya merupakan ganguan pada saraf tepi, yang terdiri dari sensorik, motorik, dan otonom. "Saraf tepi ini berasal mulai dari sumsum tulang belakang, yang berbentuk seperti akar saraf, hingga ke ujung bagian tubuh seperti tangan dan kaki," ujar Luthy.
Penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Namun, ada sejumlah kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko terkena gangguan saraf. Misalkan mereka yang berusia lanjut, penyandang diabetes, ada riwayat neuropati di keluarga, hipertensi, merokok, minum alkohol, menderita penyakit pembuluh darah, kanker, terpapar bahan kimia, infeksi penyakit, dan konsumsi obat-obatan.
Sejatinya, gangguan saraf seperti ini dapat dicegah dengan mengonsumsi vitamin B terutama B1, B6 dan B12 secara teratur. "Jangan lupa berolahraga yang melatih otot-otot saraf, misalnyaberenang dan jogging," saran Luthy.
Vitamin neuropati, kata Luthy, bermanfaat untuk menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, yaitu dengan memberikan asupan yang sesuai sehingga sel dapat berkerja dengan lebih baik.
"Setiap detik di tubuh kita terjadi perusakan (katabolisme) dan pembangunan (anabolisme), sehingga dibutuhkan nutrisi setiap hari. Vitamin juga terlibat dalam metabolisme sel, sehingga dapat dipakai untuk mengatasi kelelahan dan membantu masa penyembuhan penyakit," ujar Luthy.
Sistem saraf manusia sangat bergantung pada pasokan vitamin B yang memadai. Data menunjukkan, 45 persen orang tua yang tidak mengkonsumsi vitamin B1, menderita neuropati. Vitamin B6 diperlukan sistem saraf dan imun, serta dibutuhkan sel darah merah sebagai pembentuk hemoglobin. Kekurangan vitamin ini dapat mengakibatkan kelainan saraf seperti depresi, kebingungan, bahkan kejang.
"Vitamin B12 adalah vitamin untuk perumbuhan sel dan reproduksi. Juga penting untuk pembentukan selubung mielin (selubung yang mengelilingi dan melindungi saraf - red) dan neukleoprotein. Mielin penting untuk menyampaikan pesan dari otak ke seluruh tubuh," ujarnya.
Kekurangan B12 menyebabkan rusaknya selubung mielin, dan berpotensi mudah terjadi ganguan pada saraf seperti dipaparkan di atas. Sayangnya, kita semua rentan kekurangan Vitamin B12, karena yang masuk ke dalam tubuh dan diserap hanya kurang dari 2 persen.
"Semakin bertambahnya usia, semakin membutuhkan tambahan Vitamin B12 untuk mencegah neuropati karena penyakit degeneratif," tutup Luthy.
source: http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/05/31/93020/Jangan-Abaikan-Kram-dan-Kesemutan/11

